Ditulis Oleh : Reyka Isyana
Setiap tanggal 27, notifikasi gaji masuk ke HP Rahma. Rp3.200.000. Itu saja yang ia punya. Ia duduk di dapur kontrakan kecil di Tulungagung, menghitung lagi: listrik, beras, susu anak, bayar kontrakan. Selalu pas. Kadang kurang.
“Mas, bulan ini boleh minta tambahan 500 ribu nggak? Buat ganti ban motor yang bocor?” tanya Rahma pelan malam itu.
Suaminya, Arman, sedang mengaji. Selesai salam, ia menjawab tanpa menoleh. “Allah sudah cukupkan rezeki kita. Kamu kan punya gaji. Jangan manja. Istri shalihah itu qanaah.”
Kalimat itu keluar lagi. Kalimat yang sama setiap kali Rahma meminta. Arman hafal 5 juz. Rajin ke masjid. Kalau bicara agama, semua orang bilang dia hebat. Tapi di rumah, kata “cukup” itu terasa seperti pintu yang dikunci.
Bukan Arman pelit. Gajinya memang habis untuk cicilan, untuk sedekah, untuk orang tuanya di kampung. “Aku pemimpin. Tanggung jawabku sudah aku tunaikan,” katanya. Sejak Rahma kerja, Arman merasa nafkahnya gugur.
Rahma tidak pernah marah di depan anak-anaknya. Ia yang antar jemput sekolah pakai motor butut. Ia yang lembur saat anak demam. Ia yang menahan lapar kalau akhir bulan tanggal tua. Luka itu tidak berdarah. Tidak ada yang lihat memar di bahunya saat mengangkat galon sendirian. Tidak ada yang dengar tangisnya di kamar mandi karena malu minjam ke tetangga.
Tapi di balik itu semua, ada hal kecil yang Arman lakukan.
Setiap subuh, Arman selalu nyalakan kompor dan bikin teh hangat untuk Rahma sebelum ia berangkat kerja. Kalau Rahma pulang malam, ada nasi dan lauk ditutup tudung saji. Saat Rahma sakit, Arman yang begadang bacakan Al-Mulk sambil usap kepalanya.
“Maaf ya, aku belum bisa jadi suami yang kaya,” bisiknya suatu malam.
Rahma paham. Suaminya tidak jahat. Hanya saja mereka terjebak di dua pengertian berbeda tentang nafkah dan peduli. Malam ini, Rahma menutup buku catatannya. Angkanya masih merah. Tapi ia tersenyum. Ia belajar dari nol. Bukan mengejar materi, tapi kepuasan bisa tetap berbagi, meski dari sisa.
Karena ia tahu, tidak semua luka harus terlihat. Dan tidak semua cinta harus berbentuk uang. Kadang cinta itu teh hangat jam 4 subuh,siaga saat kita sakit dan doa yang dibisikkan diam-diam. ***

